SENANDUNG DI PUCUK BANCAK – Karya Diva Oktaviana XII.6

SENANDUNG DI PUCUK BANCAK – Karya Diva Oktaviana XII.6

0
SHARE
Diva Oktaviana XII.6

Hello? Let me introduce my self. Saya seorang siswi tingkat akhir Sekolah Menengah Atas. Banyak hal yang mendasari saya memilih SMA Negeri 1 GEGER. Oh iya, tapi bukan itu yang akan saya bahas pada perjumpaan kali ini. Diva Oktaviana, nama yang di persembahkan kedua orang tua saya kepada anak bungsunya. Diva atau Dipa yang kerap kali jadi nama sapaan saya. Kadang pula dipanggil Ipa, tapi bukan karena itu saya bisa menjadi siswa dengan jurusan MIPA di SMA Negeri 1 Geger yang keren ini. Lebih tepatnya saya pelajar IPA yang sangat tertarik dengan pelajaran IPS, bukan karena saya tidak menyukai pelajaran numeric, tapi karena saya lebih tertarik pada kunci-kunci kehidupan yang bisa kita temui di pelajaran IPS.

Ketertarikan itulah yang membuat saya rajin mencari tahu tentang pelajaran IPS, utamanya adalah Sejarah. Tentu kita semua tahu, bahwa kesadaran sejarah sangatlah penting. Karena apa? Ada yang tahu? Jadi begini, pada dasarnya sejarah akan sangat berhubungan dengan apa yang telah terjadi di masa lalu, yang terjadi di masa sekarang, atau bahkan hal-hal yang akan terjadi di masa depan. Karena itulah sejarah begitu penting dalam kehidupan.

Sejarah sangatlah luas, dapat di lihat dari berbagai sudut pandang, serta tidak akan habis masanya selama kehidupan masih terus berlangsung. Sejarah juga kita temui di salah satu bidang di kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur. Disana pula lah untuk pertama kalinya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi mengadakan Lomba Mencipta Cerpen Berlatar belakang Kesejarahan yang berhasil menarik saya untuk ikut serta berpartisipasi dalam lomba tersebut.

Ramadhan memang tidak pernah membawa hal yang buruk. Berawal dari saran Pelatih Teater saya Pak Ony, saya memberanikan diri menciptakan sebuah hasil karya sastra baru tentang sejarah dengan referensi yang minim. Saya anak yang gemar membaca, utamanya tentang sejarah, fiksi, dan misteri. Awal mulanya saya memilih untuk mengangkat tentang tongkat Pangeran Diponegoro dalam cerita saya, tapi sangat di sayangkan, sumber yang saya dapatkan sangatlah minim, dan jadinya saya serba tidak tahu tentang kebenaran sepak terjang tongkat itu. Atas berbagai saran, saya berusaha mencari opsi lain yang jauh lebih bisa mengangkat sejarah tentang MADIUN, mulai dari Retno Djumilah hingga bupati-bupati yang lain. Hingga pemikiran saya teringat pada sebuah sejarah romansa Romeo Juliet di tanah Jawa “menurut Prof.Peter (P.B.R) carey” yang sempat pula berkunjung ke SMA Negeri 1 Geger beberapa waktu yang lalu.

Si Romeo adalah tokoh Pahlawan yang sering terlupakan, ialah Raden Ronggo Prawirodirjo III yang masih erat hubungannya dengan Pangeran Diponegoro. Tidak banyak yang mengerti bahwa Madiun sempat mempunyai seorang bupati bernama Raden Ronggo Prawirodirjo III. Dengan seorang garwa padmi yang senantiasa menemani Raden Ronggo hingga akhir hayatnya, ialah GKR Maduretno. Yang lokasi kedua makamnya berada di Magetan, tepatnya adalah Gunung Bancak, dimana didepan lokasi pemakamannya terdapat sepasang Sawo kecik yang membuat lokasi pemakaman menjadi begitu rindang dan damai. Pikiran saya mengalir begitu saja bersama dengan referensi akan kebenaran informasi yang juga telah sempat saya pegang dari Prof.Peter (P.B.R) carey ketika kami dan beberapa orang yang lain menyempatkan diri berkunjung di Makam tersebut.

Berhari-hari cerita dari satu huruf menyusun kata menjadi kalimat yang terpadu di dalam paragraf dan akhirnya berhasil menjadi sebuah karya sastra. Ada banyak yang harus di ubah, bahkan hampir setengah dari cerpen saya harus di hapus karena tidak sesuai. Banyak hal yang harus di perjuangkan dan di relakan, waktu belajar, waktu untuk berlatih di sanggar, dan juga kesabaran. Saya yang aktif berkesenian di Sanggar Seni Bissing sedang dengan penuh semangat berlatih untuk mengikuti sebuah lomba kesenian di kabupaten sempat terkejut karena mendapat telpon dari Dinas Provinsi. Ucapan syukur senantiasa terucap tiada henti. 1 dari 2 naskah yang saya kirimkan, berhasil menjadi nominasi pemenang. Sebuah ambisi dan juga cita-cita saya akhirnya tercapai, mimpi yang selalu saya idam-idamkan, untuk mampu menyumbang sebuah piala kepada sekolah tercinta saya. Terlalu banyak yang telah di berikan SMA saya kepada saya. Kini giliran saya untuk memberikan yang terbaik, lagi dan lagi.

Dibawah ini adalah naskah cerpen milik saya yang berhasil meraih Juara II dalam Lomba Cipta Cerpen Berlatarbelakang Kesejarahan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur.

—————————————————————————-

SENANDUNG Di PUCUK BANCAK
Karya : Diva Oktaviana XII.6

Sepasang pohon sawo kecik mengapit udara malam di puncak gunung Bancak. Begitu sempurna warna bunga anggrek hutan ditimpa cahaya bulan. Merekalah yang setia menyambut tiap langkah kaki lelaki perkasa berselempang surban, berparas matahari dengan tombak pusaka kyai blabar di tangan kanannya. Hampir di tiap malam, ia selalu mengasingkan dari desingan peluru, percikan bunga api pedang beradu pedang dan teriakan manusia meregang nyawa dalam peperangan.

Berada di puncak Bancak, bukan berarti melarikan diri dari tanggung jawab sebagai seorang Bupati Madiun. Namun, di sinilah ia dapat bertemu belahan jiwanya, garwa padmi Gusti Kanjeng Ratu Maduretno. Sang garwa padmi yang rela melepaskan atribut kebangsawanan kesultanan karena kesucian dan keagungan kasultanan Mataram telah terpecah dan dikotori oleh banyak kepentingan kekuasaan dan juga ambisi para bangsawan. Telah dikembalikannya baju-baju kebesaran sebagai putri raja besar tanah Jawa, dan dengan begitu setia mendampingi panduan hidupnya, Raden Ronggo Prawirodirjo III menyisir hutan. Menyusun pasukan gerilya, bersahabat dengan para blandong, membakar semangat juang rakyatnya untuk berperang melawan siasat Dandels.

Raden Ronggo menyandarkan kepalanya di pusara sang garwa, luluh lantak kegarangannya tak seperti ketika di medan laga. “Diajeng, suatu saat kita akan bersama lagi. Aku akan menjagamu kembali, berada disampingmu, menggandeng tanganmu menyusuri firdaus.” Dengan halus, tangan kanannya menabur kembang setaman. “Jangan diajeng, janganlah takut. Aku tak akan meninggalkanmu lagi, aku berjanji. Limpahan air mata ini mengalir bersama kasihku padamu diajeng. Meski mungkin sekarang kau sendirian, hampa dan kesepian memandangku dari langit, sesungguhnya kita tak pernah benar – benar berada di dunia yang berbeda. Diajeng, engkau lihat bintang yang selalu muncul di penghujung senja itu? Aku percaya ialah dirimu. Ku sebutnya lintang lantip. Cahyanya paling terang diantara yang lain, ialah penghapus senjaku dan teman malamku. Kau selalu disana dengan senyum yang sama seperti saat kita pertama bertemu.” Selalu dengan kalimat yang sama ia hembuskan di pusara ini. Selalu dan selalu demikian.

Linangan air matanya terbang bersama kenangan-kenangan manis sore itu, mencuri-curi waktu meninggalkan desingan peluru meski nyawa selalu terancam dari setiap jejak kaki yang ditinggalkan. Masih terikat kuat dalam ingatannya. Kudanya berlarian riang kesana kemari tak terkendali, menapaki padang rumput nan hijau dengan ujung-ujung pohon yang bersemi dedaunannya, angin membelai halus rambut hitam legam Maduretno, dengan sangat hati-hati ia sisir dengan jari jemari lentiknya. Senyumnya begitu menawan yang kemudian membawanya jatuh pada tatapan yang sama dengan Raden Ronggo.

Senja di ufuk timur pun turut menari dengan gemulainya menghapus sinar mentari dan mencoba menelurusi sinar rembulan. Sepasang insan yang telah mengunci diri dengan hati yang sama untuk ikatan sehidup semati ini akan selalu dan tak ragu untuk membagi keluh kesah bersama, tawa bersama dan janji ini telah mengalir bersama dengan nadi. Merah darahnya wujud keberanian, cinta dan citanya akan negeri. Putihnya tulang sebagai kesucian cinta, dan keikhlasan batin, jiwa dan raga untuk turut membela negeri kemanapun kaki melangkah. Membela yang benar dengan keberanian dan keihklasan di kedua lubuk hatinya. Janjinya tertanam erat di akar gunung Bancak. Semangatnya tak pernah padam, meski kini ia harus terbangun dan menghadapi kenyataan yang pahit melebihi pahitnya empedu.

Bulan emas masih bertengger di antara pucuk pohon jati. Tak ada suara. Begitu tenang malam itu. Kandil cahaya mungil berterbangan rendah. Ribuan cahaya dari kelepak sayap kunang-kunang membumbungkan doa. “Semoga ini doa terakhirku diajeng, esok kangmas akan melanjutkan perjalanan kembali ke timur. Danurejo sengaja mengirim Pangeran Dipokusumo untuk memburuku. Tentu kau masih ingat betul siapa Dipokusumo diajeng. Dulu kita sering mencoba menjaganya agar tak terjerumus pada bayang fatamorgana kursi kekuasaan yang dijanjikan Dandels padanya. Tapi itu dulu, kenangan tinggallah kenangan. Engkau pasti mengerti bagaimana akhir dari perjuanganku ini, Diajeng?”

Lelaki itu masih setia duduk bersimpuh di pusara belahan jiwanya. Dipejamkannya kedua mata, diistirahatkan segala panca inderanya. Esok, sebelum burung-burung perkutut bernyanyi, ia sudah harus menuju palagan. Menyambut kelewang dan meriam Belanda. Menghadang kelebatan panah dan tombak bangsanya sendiri, prajurit-prajurit Yogyakarta utusan Patih Danurejo. Ronggo Prawirodirjo III tahu, di palagan ia akan kembali bertemu dengan saudaranya, Pangeran Dipokusumo.

Namun, pertemuan kali ini, akan diperantarai oleh Kyai Blabar. Kematian di medan laga adalah cita-cita yang selalu diidam-idamkan seorang kesatria, untuk semakin mendekatkannya pada nirwana yang tentu ada bila ia telah mampu membatasi untuk mati dengan hasrat keduniawian yang pupus dan harus dihapuskan. Kini peperangan antar saudara yang akan menjadi pembuktian tentang cinta, penghianatan, dan tentang keikhlasan untuk gugur. (Diva Oktaviana XII.6)

Madiun, 16 juni 2016
“Terimakasih kepada Prof.Peter (P.B.R) carey untuk kebersamaannya di gunung Bancak.”

Ayo semangat menulis. Tidak ada yang tidak mungkin bila kita terus berusaha dan berikhtiar……. Salam budaya!!

LEAVE A REPLY